Nihao.... Taiwan
Siapa
yang tak ingin belajar di luar negeri. Hampir setiap orang bermimpi ingin
keluar negeri. Bermimpi ingin merasakan suasana belajar di kelas internasional
bersama orang-orang international di
penjuru dunia. Rasanya iri setiap ada teman-teman kita, kakak kelas kita atau
orang di sekitar kita lolos ke luar negeri, entah itu study lanjut, internship,fellowship, residences, exchange program,
volunteer, pekerjaan, lomba, olimpiade, duta bangsa, Call for Paper, Speaker of
Conferencee, Exhibition dan lain
sebagainya. Mereka upload foto-foto di luar negeri memamerkan keindahan negeri
tersebut. Apalagi kalau mereka selfie di tempat wisata- wisata keren,
indahnya musim semi ketika bunga- bunga
bermekaran, musim gugur dimana bunga berguguran elok nan romantis, musim
salju bak lautan es dimana mana ada es salju, dan keceriaan di liburan musim
panas. Selain mendapatkan ilmu baru juga
mendapat teman baru, dosen baru, tempat baru dan kebudayaan baru.
Saya
ingin melanjutkan studi magister di luar negeri dan bermimpi ingin menjelajahi
5 benua. Kalian bilang tidak mungkin. Tentu mimpi itu akan menjadi bunga tidur
belaka, kalau kalian hanya mengutarakan saja tanpa ada tindakan. Semua itu
butuh proses, tidak ada yang instant dalam hidup ini. Hidup ini tidak boleh
biasa dan sederhana, tapi harus hebat, luas, kuat, berkarakter dan bermanfaat.
Sikapnya saja yang biasa dan sederhana. Saya mulai bermimpi ke luar negeri dan harus
menahan iri ketika teman teman saya ke luar negeri. Hanya bisa menangis, galau,
merenung dan air mata berjatuhan. Setelah itu update status, selfie dan
dengerin musik. Kalau seperti ini terus
saya bisa stess dan hidup saya berantakan.
Ohhh tidak saya harus bangkit dan menyusun strategi. Saya tulis semua apa saja
yang harus saya lakukan. Saya membeli buku-buku tentang luarnegeri, masuk dalam
grup grup facebook PPI Dunia dan PPI
negara-negara lain, langganan newsletter beasiswa, follow twitter pemburu beasiswa, browsing sampai larut malam, masuk
dalam forum pameran pendidikan internasional, mengikuti sekolah TOEFL dan membaca kisah inspiratif-kisah
inspiratif.
Di
lain sisi saya sibuk kerja di konsultan, seusai pulang kerja saya capek. Saya tidak bisa ikut les bahasa
inggris untuk upgrade kemampuan bahasa inggris saya yang masih pas pasan. Saya sadar kalau bahasa itu kebiasaan, bahasa
itu alat komunikasi. Jadi harus dibiasakan dan terus menerus di pelajari.
Sedangkan saya sudah 4 tahun tidak belajar bahasa inggris. Dampaknya banyak
kosakata yang lupa dan hilang. Saya ikut test TOEFL dua kali, pertama saya
mendapat skor 400 dan kedua setelah 4 tahun tidak bersinggungan dengan bahasa
inggris, nilai saya anjlok menjadi 387. Saya drop dan berkecil hati. Bagaimana
saya bisa kuliah di luar negeri kalau skor TOEFL saya anjlok. Padahal rata-rata
TOEFL yang disyaratkan 550-570. Saya semakin terpuruk dengan segala kegundahan
yang mencekam. Ketika saya tahu di FB, ada les TOEFL gratis online yang di
mentori oleh mas Budi Waluyo. Saya daftar dan ikut les. Saya download handbook
yang diberikan, mengerjakan QOTD, temu online. Akhirnya saya masih bisa belajar
TOEFL. Semangat mempersiapkan test TOEFL
yang akan datang.
Saya
sering membaca kisah kisah Inspiratif yang di tulis beliau tentang “Connecting the Dots” dan “Kisah
Kupu-kupu yang melakukan percepatan terbang dengan mengendarai mobil”. Disini
saya tidak menjelaskan kisah ini, lebih lengkapnya bisa di baca sendiri di
webnya mas Budi Waluyo. Kisah inspiratif ini menyadarkan impian saya belajar di
luarnegeri. Kendala saya masih pada skor TOEFL saya yang minim. Saya mencoba
mengikuti program –program gratis di Luar negeri, saya ikut lomba makalah di
Program AFUP di Perancis, volunteer ICYE di Italia, dan Pameran Kebudayaan di
Perancis. Ketiga program yang saya ikuti gagal semua. Saya harus tersenyum
pahit menghadapi kegagalan saya. Saya drop seakan akan dilanda mimpi buruk dan
merasa itu masa masa sulit saya . Untung Ibu saya selalu menyemangati saya dan
memberi suntikan semangat kepada saya walaupun dalam telpon , beliau meyakinkan
saya suatu saat saya akan berhasil. Saya kembali tenang, dan keadaan saya ini membuat saya lupa kalau
saya masih mendaftar satu program lagi
yaitu TEEP (Taiwan Experience Education
Program).
Ketika
itu tanggal 15 November saya diingatkan mbak kost saya tentang hari pengumuman TEEP di Taiwan. Saya
sudah tidak berharap banyak kalau saya lolos. Saya cek email masuk, ternyata
tidak ada email dari TEEP. Saya lemas tidak bergairah lagi, saya mencoba
mengirim email kepada TEEP staff tentang pengumuman yang lolos. Siang itu saya
sudah tidak semangat lagi bekerja. Pikiran saya melayang layang lagi,
memikirkan tentang pengumuman TEEP. Malam hari saya coba buka email masuk. Saya
urutkan ternyata ada email masuk dari TEEP. Isi dari email mohon maaf bagi
peserta yang tidak lolos. Deg, jantungku berdegub kencang saya tidak lolos.
Hiks, saya mencoba membuka attachment dan saya mulai membaca nama nama yan
masuk dalam admission list. Saya membaca tidak ada nama saya, saya baca lagi
tidak ada nama saya dan mulai lah keluar keringat dingin bercucuran. Saya
berharap-harap cemas membaca sekali lagi, dan saya kaget bukan kepalang nama
saya masuk dalam list. Saya memang
menderita minus, apa saya salah baca, saya baca sekali lagi nama saya
benar benar ada. Seketika itu saya langsung wudlu dan sujud syukur, saya baca
kitab suci Al Qur’an , sungguh nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan.
Mulai menangis saya dan mempercayai kalau mimpi akan terwujud kalau kita sungguh-sungguh
dan tekad yang kuat. Malam itu jam 23.00 saya coba telpon ibu berkali-kali
sangking bahagia nya tapi tidak di angkat, nasib anak tinggal di
perantauan. Kebetulan mbak kost saya lagi pulang kampung, saya di kost
sendirian dan badan saya panas dingin.
Selang
beberapa hari saya mendapat admission
letter. Tema dari kegiatan ini adalah “Decoding the Cold War and Facing Contemporary Societies” dan materi yang di berikan colonial/cold war Dis-junctures: migration
and memory, cold war knowledge production, democracy in the Asian Context,
democracy Projects, Neoliberal cultural production: Labor and economy dan
ada kunjungan Urban Farming di
Hui-Yuan Village dan Tian-Yuan-Ching workshop.
Program ini bertempat di National Chiao-Tung University dan National Tsing Hua
University Hsinchu Taiwan. Saya berharap
ini langkah awal saya go Abroad, Taiwan
my first country. Semoga bisa kuliah disini atau negara lainnya.
Saya
ajak merenung kembali, bahwa keterbatasan kita tidak menghalangi kita untuk
menjemput mimpi kita. Saya dengan kemampuan bahasa inggris yang pas pasan
terutama di speaking dan listening, waktu yang minim, capek kerja, hidup di
perantauan yang sering homesick.
Tetapi dengan segala keterbatasan saya masih mengembangkan skill bahasa inggris
saya melalui banyak membaca teks bahasa inggris, mendengarkan musik bahasa
inggris, menonton film dengan subtitle bahasa inggris, chatting dan kirim email
dengan orang asing, komunikasi langsung dengan native speaker ketika ada pameran pendidikan di jakarta. Semangat
yang kuat dan lakukan tindakan nyata serta ubah kelemahan menjadi kekuatan.
Pinjam kata mas Budi “ Let’ s break the
limits”. Jemput mimpimu dengan mata
terbuka.
Jakarta, 29 November 2015
Komentar
Posting Komentar