Sebutir Pelangi di segelas Kopi



Ketika sebuah takdir membawamu ke bumi antah berantah yang tak pernah terbersit dalam alam bawah sadar. Bumi Allah yang begitu luas dan mega fatamorgana keindahan alam yang indah tak terperikan. Jejak kaki ini melangkah pada suatu sudut titik daratan luas, daratan biru yang sarat dengan seniman, bangunan artistik dan keindahan  kebudayaannya, italia.

Kaligrafi di Wing Islamic Cultural Museum Louvre, France
Sebelum mengupas italia, aku ingin flashback tentang  diri ini ketika masih kecil, masih anak ingusan.  Aku ingin membuka lembaran diary semasa kecil. Suatu ketika, aku semasa kecil, alhamdulillah sangat menyukai ilmu agama melebihi diriku sendiri, entah kenapa saat itu aku rajin membaca majalah majalah berat sekelas Alkisah,Hidayah dan majalah lainnya. Aktif ikut pengajian, aktif mengamalkan ijazah yang di beri sama penceramah pengajian dan ikut kegiatan sholat tahajud bersama, sholat sunnah sunnah yang lainnya secara istiqomah. Saat itu aku merasa ada kekuatan yang luar biasa dalam diriku, entah apa,mungkin karena aku terlalu mencintai agama dengan kuat. Saat itu aku punya banyak target,punya banyak ambisi, punya cita cita, punya impian. Saat itu itu aku masih usia 7-9 tahun, aku sudah punya cita cita menjadi ustadzah, padahal saat itu ustadzah itu apa, aku kurang mengerti. Aku mulai semangat belajar ilmu agama yang di ajarkan di madrasah, saat itu aku suka pelajaran fiqih, tajwid, shorof, tarikh dan bahasa arab. 

Alhamdulillah dulu keinginan aku selalu di kabulkan, maksud disini selalu di kabulkan  dalam artian setelah berusaha keras, ikhtiar dan berdoa sekenceng kencengnya, segala amalan amalan di lakukan semua.  Saat itu aku merasa hafalan ku kuat, segala pelajaran yang sifatnya hafalan, dapat terekam kuat dalam memoriku, sehingga kalau ada ulangan baik itu ipa,ips, agama,dan lain sebagai nya sering mendapat  nilai seratus. Nilai maksimal ketika aku sekolah dulu yaitu seratus. Saat itu aku sangat ambisius, aku harus mendapat ranking 1 baik itu Sekolah Dasar atau Madrasah Diniyyah sore. Aku belajar mati matian, aku membaca mati matian, aku menghafal mati matian. Dimana mana aku membawa buku, bermain membawa buku, sampai nuggu jamaah sholat di mushola bawa buku. Tak boleh lepas dari buku, buku buku kakakku tak baca semua, aku harus pintar, aku harus berprestasi, aku harus sholihah, aku harus sekolah dengan biaya sendiri. 

Aku yang di lahirkan dari keluarga yang memiliki keterbatasan finansial, aku harus berpikir memutar ide, bagaiamana aku sekolah tanpa membebani orang tua. Saat itu aku pernah jualan es lilin setelah sekolah SD, berjualan gorengan, berjualan lilin. Maka dari itu, aku harus berprestasi, saat itu ketika SD ranking 1 tidak mendapat rewads buku, piala, gratis biaya spp atau uang tunjangan, sama sekali tidak mendapat apapun. Tapi setalah mendapat ranking 1, aku sering ikut lomba, lomba apapun baik lompa mapel, lomba pramuka siaga, lomba dokter kecil, bahkan lomba baca puisi atau geguritan ( tapi gagal karena suaraku kurang lantang). Rentetan lomba tersebut aku mendapat uang saku dari guru guruku, kalau dapat juara aku dapat tunjangan uang, uang tersebut aku pakai untuk biaya spp.

Semasa kecil, aku terkenal pendiam, suka menangis dan suka menyendiri. Tapi, jangan salah teman temanku respek sama aku bahkan yang cowok cowok pun sangat menghormati aku. Aku ceritakan tradisi ketika kenaikan kelas,saat detik detik pembagian raport, teman teman sekelas aku, tidak ada yang bermain, suasana seram mencekam, gundah gulana menerpa hati di setiap teman temanku, kami biasa isi dengan duduk berkumpul bersama sama sesama wanita membentuk lingkaran  dan sholawatan bareng bareng sambil menangis terisak isak. Dulu halaman sekolah masih tanah, jadi duduk di tanah sambil sholawatan bareng bareng sungguh menenangkan jiwa. Setelah sholawatan lama, sembari menuggu nama dari salah satu kami di panggil, dan alhamdulillah semua dalam perkumpulan barisan lingkaran naik kelas semua.

Aku ceritakan kisahku ketika Madrasah Diniyyah, saat itu aku merasa klik dengan pelajaran pelajaran agama dan passion ku memang pelajaran agama, sehabis sekolah SD harus segera pulang dan menyetor hafalan hafalan, karena biasanya madrasah Diniyyah identik dengan hafalan hafalan. Jadi merindu akan sosok Ustadz sepuh yang killer, rindu akan suasana takut mencekam kalau di suruh maju setoran hafalan dan tidak hafal, bakal di suruh berdiri dan di permalukan di hadapan kelas. Belum lagi drama hati dag dig dug,keringat bercucuran, mulut komat kamit merapal hafalan sambil menuggu nama di panggil, serasa dunia berada dalam genggaman tangan kalau berhasil menghafal di hadapan beliau. Subhanallah Yaa Ustadzii, kami merindukanmu semoga beliau dalam naungan ridho Allah swt. Satu lagi ustadz shorof yang super killer, beliau masih muda, saat itu kelas seperti pecahan reruntuhan rumah tua yang super horor, jantung berasa mau copot, kaki serasa tidak menjejak tanah, suasana kalut mencekam, kami harus menghapus dahaga dan keringat sambil mulut komat kamit menghafal bait bait shorof. 

Suasana kelas seperti kuburan yang ibarat kami berasa di alam kubur yang menuggu malaikat Munkar Nakiir mengeksekusi kami. Jadi merindukan masa masa saat itu, menurut hemat saya, jadi guru killer itu banyak positifnya dan banyak yang berhasil daripada guru yang stay calm. Saat itu aku berusaha keras bagaimana aku mendapat ranking 1 saat Madrasah Diniyyah, selain dapat regalo buku tulis, kitab, bolpoint juga nama beserta nama bapak di sebut ketika haflah akhiris sanah. semua perjuangan yang berbuah manis, tidak semudah mebalikkan telapak tangan ke meja. semua ada proses berdarah darah, kemana mana harus berteman baik dengan si buku, sholat 5 waktu berjamaah sambil berusaha sekhusyuk khusyuk nya ( Khusyuk versi anak kecil), sembari baca surat Yasiin sambil menangis mengharu biru tiap selesai sholat rowatib, membaca 1 juz dalam sehari, wajib ngaji Alqur an selepas sholat subuh, dhuhur dan magrib. Sholat tahajud wajib tidak boleh tertinggal ( versi anak kecil sudah menghukumi wajib ) belum amalan amalan kecil lainnya. 

Agenda lainnya, pengajian di surau yang isinya orang orang lanjut semua dan disitu aku anak kecil yang nyungsep di antara puluhan mbah mbah.  Ustadz pengisi ceramah ini aku suka gaya penyampaian nya mengalahkan semangat motivator motivator hebat macam Mario Teguh dan Andrie Wongso. Sampai sekarang beliau masih aktif mengisi pengajian selepas Dhuhur. Pengajian ini yang memberiku ruh dalam nafasku, bahwa hidup ini indah jika semua karena Allah swt. sekencang kencangnya kamu berlari, sebebas bebasnya kamu terbang di angkasa raya, sedalam dalam kamu berenang di samudra lepas takkan bisa merasakan nkimat iman dan takwa yang tertanam di hati. 

Nikmat yang tidak bisa di lukiskan di langit biru, tak bisa di semaikan di hijaunya bumi. Ketika hati kamu sudah berada di pelupuk cinta, mahabbah yang tiada tara pada Sang Maha Cinta, sungguh dunia seisinya, alam akhirat beserta keindahan surga tak bisa menyaingi nikmatnya walau setitik dot di samudra, tak ada kiasan yang mampu menjalinkan Nikmatnya kepada Sang Maha Mahabbah. Mata kamu akan terus mengalir deras takkan kering oleh jahatnya sinar surya. Seorang sufi Dzun Nun yang mengabadikan cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, tiada yang bisa di rasakan di dunia ini selain cinta kekal kepada Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kaligrafi di Museum Louvre, Perancis
Italia, 26 April 2017 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

a Holy Jail

Nihao.... Taiwan